Memuat promosi...
Istri Rahasia Om Raymond
Jovita tak menyangka akan menjadi istri rahasia Raymond, ayah dari sahabatnya sendiri. Padahal di mata dunia, Raymond adalah milik wanita lain. Sampai sebuah malam mengubah segalanya. Jebakan maut memicu malam panas yang mengaburkan batas antara belas kasihan dan gairah. Terjebak di antara status istri rahasia, sahabat putri suaminya, dan cinta yang terlarang, akankah Jovita bertahan saat rahasia itu mulai terkuak?
Bab (1)
第1章
Jovita tak menyangka akan menjadi istri rahasia Raymond, ayah dari sahabatnya sendiri. Padahal di mata dunia, Raymond adalah milik wanita lain.
Sampai sebuah malam mengubah segalanya.
Jebakan maut memicu malam panas yang mengaburkan batas antara belas kasihan dan gairah.
Terjebak di antara status istri rahasia, sahabat putri suaminya, dan cinta yang terlarang, akankah Jovita bertahan saat rahasia itu mulai terkuak?
1. Upik Abu di Tengah Pesta
“Argh….”
Basah, dingin, dan lengket.
Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.
“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Sepertinya, tempat ini memang tidak cocok untukmu, Jo.”
Menjadi mahasiswa pintar dan sering membantu teman mengerjakan tugas, tidak serta merta membuat Jovita diterima saat kemiskinan melekat erat dalam kehidupannya.
“Hei, apa-apaan ini?” Viola datang membelah kerumunan. Gaun silvernya berkilau mewah di bawah lampu kristal.
“Jojo itu sahabatku! Aku yang mengundangnya….” Kalimat Viola terjeda, dilihatnya Jovita dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Kenapa pakai baju ini? Kenapa tidak pakai gaun yang kuberi kemarin?”
Tawa renyah sekumpulan mahasiswa elit itu mendadak senyap, digantikan seringai geli merendahkan.
Dalam benak mereka, saking miskinnya Jovita, baju saja pemberian dari Viola. Bukan hanya baju pesta yang baru saja disebut Viola, tapi baju andalan yang sering digunakan ke kampus adalah pemberian Viola.
“Aku harus bekerja.” Jovita memaksakan senyum untuk sahabatnya. “Selamat ulang tahun, Vio.”
“Masuk ke kamar mandi di belakang ballroom sekarang, Jo. Bersihkan dirimu,” perintah Vio tegas, tapi terdengar peduli.
Jovita mengangguk samar, bergegas menuju ke kamar mandi. Membersihkan baju bukan tujuan utamanya, tapi meninggalkan orang-orang yang merendahkannya.
Begitu Jovita menghilang dari ballroom, sorot mata Vio langsung beralih antusias ke ambang pintu.
“Tepat waktu,” gumam Viola dengan senyum puas, bergegas menghampiri sosok yang baru memasuki ballroom tanpa menoleh lagi ke arah Jovita.
“Dylan!” Viola menyapa pemuda tampan itu dengan nada manja dan menggoda.
“Selamat ulang tahun,” ucap Dylan dingin sambil menyerahkan kado tanpa minat.
Tatap mata Dylan tidak tertuju pada Viola, justru memindai seisi ballroom seperti ada orang lain yang dicarinya.
Berbeda dengan keriuhan di dalam ballroom, lorong menuju toilet terasa sunyi dan dingin. Jovita berjalan lambat sembari mengusap noda di dadanya.
Langkahnya mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara bariton yang sangat ia kenal dari balik belokan.
“Oh… Sayang. Aku mohon sekali lagi!”
Suara itu terdengar nelangsa, jauh dari gambaran sosok Raymond Chandra, pemilik biro arsitektur raksasa yang biasanya berdiri tegak, dingin, dan tak tersentuh di rumah mewah tempat Jovita sering menumpang belajar.
“Aku mohon pengertianmu, Karin. Aku tidak mungkin meninggalkan ulang tahun Vio sekarang. Dia bisa ngamuk, dan itu sangat buruk untuk hubungan kita nanti.”
Dengan kepala mendongak dan ponsel masih menempel erat di telinganya, Raymond menarik napas panjang. Gurat lelah tampak jelas di dahi pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu.
Di bawah sorot lampu lorong hotel, segala kelebihan Raymond seolah raib. Yang tersisa kini hanya pria yang terjepit di antara dua perempuan yang menguasai hidupnya, putri tunggal dan kekasihnya.
Napas Jovita tertahan, dadanya mendadak sesak oleh rasa iri yang janggal. Memorinya terlempar ke gubuk pengap yang ia sebut rumah, teringat Joni, ayahnya.
Jangankan memohon dengan suara selembut itu, Joni hanya tahu cara berteriak, mengayun sabuk dan membanting botol minuman keras jika keinginannya tak dipenuhi. Ayahnya adalah alasan mengapa sang ibu memilih pergi beberapa tahun lalu, meninggalkan Jovita yang harus banting tulang membiayai hidupnya sendiri.
“Seandainya aku memiliki ayah seperti dia,” batin Jovita perih. “Mungkin Bunda tidak akan kabur, dan aku akan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia.”
Tiba-tiba, Raymond memutar tubuh. Matanya langsung menangkap sosok gadis di sudut lorong, Raymond mengenali sahabat putrinya itu.
“Jojo?” Raymond menurunkan ponselnya. Matanya menyipit, menelusuri seragam katering yang dikenakan gadis itu. “Kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak di dalam bersama Vio dan yang lainnya?”
Jovita menunduk. “Saya... saya sedang bekerja, Om.”
Raymond terdiam sejenak. menyaksikan penampilan Jovita yang sangat kontras dengan gaun-gaun pesta seharga puluhan juta yang berseliweran di ballroom sana.
Jovita adalah sahabat dekat Viola, tidak datang sebagai tamu undangan, melainkan sebagai buruh kasar.
“Ayo, ikut merayakan ulang tahun Vio.”
“Tidak Om,” tolak Jovita tanpa berpikir panjang, menunduk menatap seragamnya. “Saya tidak ingin merusak pesta Vio.”
Sebagai seorang pelayan saja kedatangannya tidak diterima, apalagi jika sampai dia masuk bersama sang donator acara.
Raymond memperhatikan jemari Jovita yang saling meremas, lalu mengangguk samar seolah paham situasi. Dia tidak akan memaksa. Raymond paham, berada di tengah pesta mewah dengan seragam katering pasti membuat Jovita tidak nyaman.
“Baiklah kalau begitu. Lain kali kalau ada masalah jangan sungkan untuk bicara, mungkin Om bisa bantu.”
Jovita mengangguk. “Terima kasih, Om.”
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Kalimat pendek Raymond, layaknya kepedulian yang menghangatkan hati Jovita.
Raymond berbalik, melangkah tegap menuju ballroom, meninggalkan Jovita yang terpaku menatap punggung lebar itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh untuk bersandar.
Menjelang jam sebelas malam pesta akhirnya usai. Lorong hotel mulai lengang, menyisakan sisa aroma parfum mahal yang menguap di udara.
Di depan lobi, Viola tampak gelisah. Matanya tertuju pada Dylan, pria incarannya itu terlihat mondar-mandir di dekat pintu kaca, mengawasi setiap orang yang keluar. Viola tahu persis siapa yang sedang ditunggu pemuda itu, dan kenyataan tersebut membuat hatinya terbakar cemburu.
“Papa!” Viola mencegat Raymond yang baru kelar dari lift. “Papa, tolong antar Jojo pulang, ya? Sudah malam, kasihan dia.”
Raymond mengernyit, mengalihkan pandangan pada Jovita yang muncul dengan kemeja flannel sederhana.
“Pokoknya Papa harus antar. Vio nggak tenang kalau Jojo pulang sendiri jam segini,” ucap Viola dengan manja, sambil menarik lengan papanya mendekat ke arah Jovita.
Jovita mencoba menolak. “Enggak usah, Vio. Aku bisa sendiri.”
“Jojo, jangan bantah!” Viola memelotot. “Papa nggak keberatan, kan?”
Raymond menatap Jovita sejenak, lalu mengangguk singkat. Bukan hanya untuk menuruti permintaan anaknya, tapi juga kasihan pada Jovita.
“Ayo, saya antar.”
Dengan perasaan sungkan yang amat sangat, Jovita akhirnya menurut.
Saat mobil hitam milik Raymond perlahan meninggalkan pelataran hotel, Viola tersenyum puas. Ia berbalik dan melangkah cepat menghampiri Dylan yang masih menunggu Jovita.
“Dylan!” panggil Viola dengan nada yang dibuat sedih. “Bisa antar aku pulang? Papa tiba-tiba ada urusan bisnis mendadak, aku ditinggal sendiri.”
Dylan menoleh, matanya masih tampak mencari. “Kamu lihat Jovita?”
Viola mendesah pelan, pura-pura tidak acuh. “Oh, Jojo? Dia sudah pulang dari tadi. Kamu telat, tadi ada cowok yang jemput.”
Wajah Dylan seketika lesu. Ia mengembuskan napas kecewa dan cemburu mendengar Jovita bersama pria lain.
“Dylan! Bisakan antar aku?” Tatap mata Viola memohon manja.
Dylan mengembuskan napas kasar. Ia tahu keluarga Viola memesan penthouse di hotel ini untuk menginap, tapi penolakan hanya akan membuat semakin lama untuk menghindar dari Viola.
“Masuk!” perintah Dylan dengan terpaksa.
Sementara itu di mobil Raymond membelah jalan yang mulai lengang. Jovita merasa kerdil di jok kulit yang empuk. Tangan Jovita bertumpu di pangkuan, saling meremas ujung kemeja belel.
“Kenapa mengambil kerja sampingan di hari ulang tahun sahabatmu sendiri?” Suara bariton Raymond memecah keheningan, matanya tetap lurus menatap jalanan.
“Saya butuh uang, Om.”
“Untuk?”
“Tunggakan semesteran saya sudah lewat tiga bulan. Kalau minggu depan belum lunas, saya di-DO.” Jovita menunduk malu.
“Kalau cuma itu, saya bisa bantu.” Raymond melirik singkat. “Sebagai gantinya, saya ingin bantuan kecil.”
Jantung Jovita mencelos hingga membuatnya langsung menoleh. Di dalam mobil yang remang, wajah matang Raymond tampak begitu tenang, tapi tetap menyiratkan kuasa yang mutlak. Hidup keras mengajarkan Jovita satu hal, tidak ada makan siang gratis, apalagi dari pria sekaya Raymond.
“Apa... apa yang harus saya lakukan untuk itu, Om?” tanya Jovita, suaranya bergetar.
Raymond mengetukkan jarinya di setir, menatap gadis muda di sampingnya yang tampak ketakutan namun butuh pertolongan.
“Kamu adalah orang yang paling didengar oleh Vio saat ini,” ucap Raymond dengan nada rendah yang dingin.
“Bantu saya meyakinkan dia… agar mau menerima Karina sebagai ibu barunya.”
2. Fitnah Keji
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.
Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.
“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yakin dia mau mendengarkan saya jika ini menyangkut Bu Karina.”
Raymond tidak membantah. Jemarinya kembali mengetuk setir. Tatap matanya lurus menyembunyikan gurat frustrasi dengan rapi dibalik wajah tenangnya.
“Aku tahu. Itu sebabnya, imbalan yang kutawarkan tidak sedikit.”
Jovita bimbang. Uang kuliahnya harus lunas minggu depan, tapi ia juga sadar risiko tugas ini. Jika dia gagal, persahabatan dengan Viola taruhannya.
Mengumpulkan keberanian yang tersisa, Jovita menarik napas dalam.
“Saya… saya akan berusaha bicara dengan Vio, Om,” ucap Jovita ragu. “Tapi saya tidak jamin dia akan setuju. Jadi… bolehkah saya meminta tugas lagi?”
Raymond menoleh, sebelah alisnya terangkat.
“Maksudnya?”
“Saya benar-benar butuh uang, Om. Tolong beri saya kesempatan untuk magang biro arsitektur milik Om,” pinta Jovita cepat sebelum nyalinya menciut.
“Saya butuh penghasilan, saya hanya ingin bisa bertahan kuliah sampai lulus.”
Satu sudut bibir Raymond terangkat, senyuman samarnya hampir tak tampak. Pria itu mengagumi harga diri Jovita di tengah kemiskinan yang mencekiknya.
“Baik. Besok datang ke kantorku jam sembilan pagi. Temui sekretarisku.”
“Terima kasih, Om.” Senyum lega terbit di wajah Jovita. “Saya janji akan berusaha keras meyakinkan Vio,” sambung Jovita dengan semangat.
Sebelum Jovita sempat meraih tuas pintu, perhatian Raymond teralih ke luar jendela.
Di bawah remang lampu jalan di mulut gang, tiga pemuda tanggung bertengger di atas motor. Mereka terbahak-bahak sembari bergiliran menenggak cairan dari botol kaca.
Atmosfer berbahaya terasa pekat, bahkan dari balik kaca mobil mewah yang tertutup rapat.
Ada kilat cemas di mata Raymond. Ia pernah sekali mendatangi tempat ini, saat mengantar Viola memberikan pakaian bekas untuk Jovita. Dan baginya, tempat ini sangat tidak layak.
“Kamu betah tinggal di lingkungan seperti ini?”
Jovita tersenyum kecut sambil mengangguk terpaksa. Betah atau tidak, itu bukan pilihan. Memiliki tempat berteduh sudah merupakan keberuntungan baginya.
“Masuklah!” ujar Raymond tegas, terdengar dingin dan memerintah.
“Aku akan menunggu di sini. Sampai rumah, langsung hubungi aku. Jika dalam lima belas menit aku tidak menerima kabar, aku yang akan masuk ke dalam.”
Jantung Jovita berdesir aneh. Sejak ibunya pergi, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang peduli apakah dia pulang dengan selamat atau tidak.
Perhatian Raymond terasa asing, tapi menghangatkan hati Jovita yang hampa.
“Baik, Om.”
Jovita bergegas turun, berjalan cepat membelah gang sempit, mengabaikan siulan nakal dan godaan dari para pemuda mabuk di ujung jalan.
Begitu membuka pintu kontrakan yang reyot, bau apek bercampur alkohol yang menyengat langsung menyergap indra penciuman Jovita.
“Mana uangnya?”
Bentakan kasar menyambut kepulangan Jovita.
Joni berdiri dengan pakaian kusut dan mata merah. Tanpa aba-aba merangsek maju dan merenggut paksa tas Jovita.
“Jangan, Yah! Tambah upah hari ini belum cukup bayar kuliah!” Jovita menahan tali tasnya kuat-kuat.
“Buat apa kuliah? Buang-buang uang saja!”
Plak!
Tamparan keras mendarat telak di pipi Jovita, hingga sudut bibirnya pecah, mengalir darah segar.
Tak ada penyesalan, Joni justru menjambak rambut Jovita dengan kasar, memaksa wajah putrinya mendongak.
“Berikan uangnya sekarang!”
“Ampun, Yah… sakit!” Jovita menangis, berusaha melepas cengkeraman kasar di kepalanya.
Di saku celananya, ponsel Jovita bergetar. Jovita tahu itu dari Raymond.
Lima belas menit berlalu, tapi dia belum sempat menyentuh ponselnya.
“Mana uangnya, Jo?”
Karena kalah fisik, tas Jovita akhirnya terlepas. Kala Joni hendak pergi membawa ransel itu dengan sisa tenaga yang ada, Jovita merangkak dan memeluk erat kaki ayahnya.
“Balikin, Yah!”
Tatap mata Jovita sempat tertuju ke kamarnya yang sudah berantakan. Beruntung, ia sudah menyembunyikan sisa tabungannya di tempat lain.
“Kalau kuliah Jojo beres, Jojo janji akan cari uang buat bayar utang Ayah.”
“Mau bayar pakai apa? Hah? Jual diri?”
Joni yang berada dalam pengaruh alkohol langsung menghentakkan kakinya, menginjak punggung tangan Jovita yang mencengkeram celananya.
Brak!
Pintu kontrakan berdentum keras, setelah ditendang dengan kekuatan penuh dari luar.
Raymond berdiri di ambang pintu, tatap matanya dingin mengintimidasi.
“Hentikan!” Suara Raymond bergetar menahan amarah yang siap meledak.
Benak Raymond langsung terbang kepada putri tinggalnya. Bagaimana jika nasib buruk ini menimpa Viola?
Joni tertegun, sedetik kemudian seringai serakah yang menjijikkan terbit di wajahnya.
“Oh… kamu sudah menjual diri pada laki-laki ini, Jo?” Joni terkekeh sinis, dengan tangan kembali menjambak Jovita.
Air mata Jovita berderaian, ia meringis kesakitan sambil menggeleng. Entah menyangkal ucapan ayahnya atau memberi peringatan kepada Raymond agar tidak terseret dalam masalah keluarganya.
“Beri aku uang dan kamu boleh menikmati Jojo sepuasnya malam ini!” ucap Joni tanpa urat malu.
Tangan Raymond mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya pun mengeras.
“Aku tidak akan memberi sepeser pun kepada bajingan sepertimu.”
Tanpa berpikir panjang, Raymond maju mencengkeram pergelangan tangan Joni yang menjambak Jovita, lalu menghempaskan dengan sentakan kuat hingga pemabuk itu terjungkal.
Raymond segera membantu Jovita bangkit dan menyeka darah di ujung bibir gadis itu menggunakan saputangannya.
“Kamu tidak apa-apa, Jo?”
Jovita tidak sanggup bersuara, ia hanya bisa terisak hebat sambil menggelengkan kepala dalam pelukan perlindungan Raymond.
Joni merangkak bangun dengan mata melotot. Dengan amarah dan perasaan terhina, pria itu mulai memukul dinding seng rumahnya, berteriak histeris sekencang mungkin.
“Maling! Tolong! Anakku diperkosa! Tolong!”
3. Terpaksa Nikah
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan.
Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.
“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.
“Itu tidak benar!” Jovita berteriak di sela tangis, mencoba berdiri di depan Raymond untuk melindunginya.
“Om Raymond tidak seperti itu! Dia cuma mau nolong saya karena dipukuli Ayah! Tolong percaya pada saya!”
Pembelaan Jovita justru semakin menimbulkan curiga, membuat warga yang sudah terprovokasi semakin emosi.
Ditambah pakaian Jovita yang acak-acakan, asumsi liar menyebar.
“Jangan-jangan mereka memang ada apa-apa. Buat apa orang kaya datang malam-malam ke tempat kumuh begini kalau bukan urusan syahwat?” celetuk seorang warga dari belakang.
“Betul! Daripada mengotori kampung ini dan bikin sial, lebih baik nikahkan saja mereka sekarang!” seru warga lain yang langsung mendapat anggukan pembenaran.
Mata Jovita membeliak lebar, jantungnya berpacu kencang.
“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Jangan fitnah kami!”
Jovita panik. Ia tidak ingin menghancurkan hidup Raymond hanya karena kemalangan dirinya.
Pembicaraan mereka sebelumnya jelas menunjukkan jika Raymond memiliki impian indah dengan perempuan lain, perempuan yang sepadan dengannya.
Bukan ini yang diinginkan Joni. Dia hanya butuh uang.
“Saya minta ganti….”
“Cepat! Panggil Pak Ustaz!” Teriakan salah satu warga memotong ucapan Joni.
Sementara itu Raymond masih terdiam, menatap kerumunan warga yang mulai terprovokasi. Pandangannya beralih kepada Jovita yang gemetar ketakutan.
Dengan uang dan relasi, Raymond bisa saja menelepon pengacara atau orang-orang kepercayaannya untuk membubarkan massa dan pergi begitu saja. Tapi, risiko gadis di hadapannya akan semakin disiksa ayahnya yang kejam dan dikucilkan warga.
Raymond memang memiliki impian indah bersama Karina. Tapi, situasi ini adalah masalah hidup mati bagi gadis malang di hadapannya. Raymond sadar, malam ini dia bisa menyelamatkan Jovita.
Diawali dengan tarikan napas panjang, Raymond menegakkan berdirinya.
“Saya akan menikahi Jojo.”
Jovita menoleh dengan tatapan tidak percaya.
“Om Raymond… Om tidak perlu berkorban sejauh ini.”
Raymond menepuk pundak Jovita untuk menenangkan. Tapi tatap matanya tertuju pada Joni, penuh ancaman dan tantangan.
Daripada memberi uang pada pemabuk itu, Raymond memilih mengambil risiko menikah dengan Jovita. Pernikahan dadakan ini hanya pernikahan siri yang tak tercatat secara hukum.
“Kemasi semua barangmu, Jo! Setelah kita menikah, aku akan membawamu pergi dari tempat ini.”
“Kau harus memberi mahar!”
“Tentu, tapi untuk Jojo, bukan kamu.”
“Tidak bisa! Kamu harus memberi saya….”
Belum sempat Joni menyebut nominal yang dia inginkan, ustaz yang akan menikahkan Raymond dan Jovita datang.
“Siapa yang harus saya nikahkan?”
“Mereka berdua Pak Ustaz,” ucap salah satu warga sambil menunjuk Raymond dan Jovita bergantian.
“Apakah syarat-syaratnya lengkap? Bagaimana dengan maharnya?”
Raymond merogoh dompet kulitnya, menarik selembar uang berwarna merah, satu-satunya uang tunai yang tersisa, lalu meletakkannya di atas meja kayu.
“Hanya ini uang tunai yang saya bawa saat ini. Saya harap ini sah sebagai mahar,” ucap Raymond datar, tanpa ekspresi.
Di hadapan seorang ustaz setempat dan dua orang warga yang bertindak sebagai saksi, sebuah pernikahan siri dadakan terlaksana.
Tanpa dekorasi mewah, tanpa senyum bahagia, dan juga tanpa cinta.
Jovita duduk menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Di sampingnya, Raymond duduk dengan punggung tegak, melafalkan kalimat kabul dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, seolah sedang menandatangani kontrak bisnis biasa.
“Sah?”
“Sah.”
Kata itu meresmikan segalanya.
Joni yang duduk di sudut ruangan menyaksikan prosesi itu dengan rahang mengeras. Matanya yang merah menatap selembar uang merah di atas meja dengan kilat murka. Harapannya untuk memeras pria kaya di hadapannya runtuh seketika.
Raymond bangkit berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Joni dengan sorot mata yang begitu mengintimidasi.
“Jojo sudah sah menjadi istri saya. Segala hak dan tanggung jawab atas dirinya ada di tangan saya. Jadi…” Raymond menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang dingin.
“Jika kamu mengganggu istri saya lagi, saya pastikan kamu membusuk di penjara.”
Joni mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Amarah dan dendam membakar dadanya.
Raymond benar-benar tidak memberi uang pada Joni. Parahnya lagi, pria kaya itu juga merenggut Jovita, satu-satunya sumber uang Joni selama ini.
Malam itu juga, Raymond memboyong Jovita pergi dari kampung kumuh tersebut.
Sepanjang perjalanan, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil. Jovita hanya bisa memandang keluar jendela, meratapi nasib hidupnya yang berubah total dalam hitungan jam.
Mobil berhenti di sebuah kawasan elite di tengah kota. Raymond membawa Jovita ke sebuah bangunan megah bergaya modern minimalis, sebuah rumah kos eksklusif yang menjadi salah satu aset properti investasinya.
Raymond membuka pintu salah satu kamar suite yang luas, lengkap dengan fasilitas mewah yang bahkan belum pernah Jovita bayangkan sebelumnya.
Pria itu berbalik, menatap Jovita yang berdiri canggung di dekat pintu.
“Mulai malam ini, kamu tinggal di sini. Semua fasilitas dan keamanan di sini sudah terjamin. Ayahmu tidak akan bisa masuk.”
Jovita menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
“Om… kenapa Om harus sejauh ini? Pernikahan tadi… tidak perlu dilakukan. Bagaimana dengan Bu Karina?”
Raymond melonggarkan dasinya, gurat lelah tercetak jelas di wajah matangnya.
“Pernikahan tadi hanya nikah siri, Jo. Di mata hukum negara, kita tidak terikat. Aku bisa mengucap talak sewaktu-waktu.”
Mendengar kata 'talak' yang diucapkan Raymond dengan begitu enteng, dada Jovita terasa berdenyut nyeri.
Jovita mendongak, menatap langsung ke netra tajam pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu.
“Kalau begitu, Om bisa menalak saya saat ini juga. Saya tidak ingin menjadi beban, dan saya juga tidak ingin mengacaukan hidup Om.”
4. Dilema Jovita
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni.
Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.
“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas.
“Jika aku menalakmu malam ini dan membiarkanmu pergi, besok pagi ayahmu pasti akan menyeretmu kembali ke neraka itu. Aku harus memastikan kamu benar-benar aman dan bisa mandiri terlebih dahulu.”
Jovita meremas ujung kemejanya. Pertanyaan yang sejak tadi menyumbat tenggorokannya akhirnya lolos juga.
“Lalu… bagaimana dengan Bu Karina?”
Mendengar nama Karina disebut, sorot mata Raymond meredup sekilas. Ada beban berat yang kembali menggelayuti pundaknya.
“Kamu harus merahasiakan pernikahan kita dari siapa pun. Baik itu Vio, maupun Karina. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.”
Raymond menatap Jovita dalam-dalam.
“Perjanjian kita sebelumnya tetap berlaku, kau harus meyakinkan Vio untuk menerima Karina sebagai ibu barunya,” ucap Raymond, lirih tapi terdengar tegas.
“Setelah Vio bisa menerima Karina sebagai ibu barunya, dan setelah kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri… kita akan mengakhiri hubungan ini. Kamu paham?”
Jovita hanya mengangguk samar atas kesepakatan yang saling menguntungkan ini.
Raymond melindungi Jovita dari sang ayah dan membiayai kuliahnya.
Sementara Jovita harus menjaga rahasia pernikahan mereka, sambil menjalankan misi untuk kelancaran hubungan asmara Raymond dengan perempuan yang dicintainya.
“Baik, Om. Saya paham.”
***
Helaan napas lega lolos dari bibir Jovita saat menatap layar ponsel. Status administrasi di portal mahasiswa kampusnya telah berubah hijau.
Lunas.
Sudah dua semester ini Raymond memenuhi janjinya, menanggung seluruh biaya kuliah Jovita. Di sisi lain, Jovita belum juga berhasil menunaikan tugasnya meyakinkan Viola. Membuat rasa bersalah kadang menghantuinya.
Selembar uang merah yang menjadi mahar dari Raymond mungkin adalah mahar termurah di dunia. Tapi perlindungan dan tanggung jawab yang Raymond berikan di balik itu benar-benar menyelamatkan masa depan mahasiswa jurusan arsitektur itu.
“Jojo!”
Tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Jovita.
Viola sudah berdiri di samping meja kuliahnya dengan tas jinjing bermerek dan senyum lebar.
“Pulang kampus main ke rumahku, ya?” ajak Viola manja.
“Aku habis kalap belanja kemarin. Ada beberapa baju yang pas dicoba ternyata aku nggak suka warnanya. Daripada dibuang, mending buat kamu.”
Jovita mengangguk samar. “Terima kasih banyak, ya,” ucap Jovita tulus, meski pakaian itu belum diterimanya.
Di dalam mobil milik Viola, kecanggungan mulai merayap di dada Jovita. Viola menyetir sambil sesekali melirik sahabatnya itu dengan tatapan menyelidik.
“Dengar-dengar kamu magang di Vastu Chandra Architecture?” tanya Viola tanpa basa-basi menyebut biro arsitektur milik papanya.
Jovita menegang sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Ya,” jawab singkat Jovita, berusaha setenang mungkin.
“Bagus, deh! Pas banget kalau begitu!” Viola berseru antusias, menepuk setir mobilnya. “Jo, aku punya misi khusus buat kamu selama magang di sana.”
“Tugas apa, Vio?”
“Awasi Papaku,” wajah Viola mendadak berubah serius dan dingin.
“Perhatikan setiap gerak-geriknya. Jangan biarkan perempuan genit bernama Karina datang ke kantor Papa atau cari muka di depan Papa. Pokoknya, kalau perempuan itu datang atau Papa mulai kelihatan terlalu dekat dengannya, kamu harus langsung laporkan ke aku!”
Deg.
Jantung Jovita serasa berhenti berdetak. Rasa bersalah yang teramat sangat meremas dadanya. Raymond dan Viola, memberi misi berlawanan kepada dirinya.
Mengingat sudah menerima uang Raymond, Jovita mencoba memberanikan diri membuka suara.
“Vio… tapi, kan, Bu Karina itu kekasih Om Ray. Maksudku, wajar kalau mereka dekat.” Jovita berhati-hati, mengatur nada suaranya agar tidak mencurigakan.
“Mungkin… kamu juga harus mulai belajar menerima kehadiran Bu Karina? Om Ray pasti kesepian dan butuh teman hidup.”
“Nggak akan!” potong Viola sengit, napasnya memburu.
“Aku nggak sudi punya ibu tiri! Aku masih berharap Papa dan Mama rujuk. Mereka cuma egois, Jo. Aku yakin kalau perempuan gatal itu menyingkir, Papa pasti mau kembali sama Mama demi aku.”
Jovita bungkam. Ia memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Masalah uang kuliah selesai, tapi masalah lain yang lebih rumit menghantam.
Saat ini status Jovita adalah istri siri Raymond. Menikung Karina, dan menjadi penghalang impian sahabatnya memiliki keluarga impiannya.
Sebutan apa yang pantas untuk perempuan seperti dirinya?
Mobil Viola memasuki gerbang rumah mewah keluarga Chandra. Rumah itu tampak sepi seperti biasanya.
Tapi sedang putih yang terparkir di sana membuat hati Viola mendadak meradang. Dia mengenali pemiliknya, Karina.
Viola bergegas turun dari mobil dengan langkah terburu-buru, diikuti Jovita dari belakang.
Pintu utama rumah mewah itu tampak sedikit terbuka. Viola yang dipenuhi rasa dongkol langsung melangkah masuk dengan muka merah penuh amarah
“Pa!”
Panggilan Viola terputus di tenggorokan. Langkahnya terhenti mendadak di area foyer.
Di hadapan Jovita dan Viola, tepat di dekat sofa ruang tamu yang remang, Raymond sedang berdiri tegak. Di dalam dekapannya, ada seorang wanita anggun yang tak lain adalah Karina.
Raymond memeluk pinggang wanita itu dengan erat, lalu merunduk, mencium bibir Karina dengan begitu mesra dan penuh kerinduan. Ciuman yang sarat akan kepemilikan mendalam antara dua orang dewasa yang saling mencintai.
Jovita yang berdiri tepat di belakang Viola terpaku. Pemandangan di depannya terasa seperti hantaman yang menghancurkan dadanya hingga tak bersisa.
Ada rasa nyeri yang mendadak menyeruak, terasa asing tapi begitu menyiksa.
Melihat bagaimana Raymond memperlakukan Karina dengan begitu penuh damba, Jovita ditarik paksa kembali pada realitas yang paling pahit.
Bagi Raymond, Jovita tidak lebih dari sekadar gadis miskin yang ditolong karena belas kasihan. Sementara hati, cinta, dan hasrat pria itu, seutuhnya hanya milik Karina.
5. Tumbler Maut
“Papa jahat!”
Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina.
Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.
Raymond segera melepaskan dekapannya pada Karina, lalu melangkah maju dengan ekspresi wajah yang kembali dingin dan berwibawa.
“Jaga sopan santunmu, Vio. Ada tamu di sini.”
“Tamu? Papa sebut perempuan jalang itu tamu?” tunjuk Viola dengan jari bergetar ke arah Karina.
Karina menarik napas panjang, mencoba tersenyum sabar meski matanya menyiratkan luka.
“Vio, Tante dan Papa kamu…”
“Diam!” bentak Viola sengit. “Kamu tidak punya hak bicara di sini.”
“Papa sudah janji mau rujuk sama Mama! Kenapa sekarang justru bermesraan dengan perempuan ini di rumah ini?”
“Cukup, Viola!” Bentakan Raymond menggema.
“Papa tidak pernah janji rujuk dengan mamamu. Pernikahan kami sudah lama selesai. Dan bulan depan, Papa dan Tante Karina akan segera menikah. Semua keluarga besar dari pihak Papa maupun Tante Karina sudah merestui hubungan kami.”
Raymond menjeda kalimatnya, menatap putrinya dengan tatapan jengah yang tak terbantahkan.
“Hanya kamu yang belum dewasa untuk menerima kenyataan ini.”
Mendengar pengumuman itu, Viola menjerit histeris. Ia membanting tas jinjingnya ke lantai, lalu berlari naik ke lantai dua menuju kamarnya sambil terus mengumpat.
Di sudut ruangan, Jovita hanya bisa terdiam membeku. Dadanya sesak seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak raib.
Bulan depan, suaminya akan menikahi perempuan lain.
Jovita menunduk, menatap remang lantai marmer di bawah kakinya. Setitik rasa perih yang ganjil menyengat hatinya. Ia menyadari posisinya dengan sangat sadar.
Pernikahan dengan Raymond hanyalah kecelakaan. Tindakan impulsif yang terpaksa Raymond ambil untuk menyelamatkannya dari kebiadaban ayahnya.
Dan Jovita, tidak berhak menuntut lebih.
Jovita melirik Karina yang sedang ditenangkan oleh Raymond dengan usapan lembut di punggungnya.
Perempuan itu begitu anggun, berpendidikan, berasal dari keluarga terpandang, dan memiliki kelas sosial yang sama dengan Raymond.
”Cinta itu memang harus setara,” batin Jovita perih, meremas ujung kemejanya sendiri.
Rasa rendah diri membuat Jovita berpikir Raymond lebih pantas bersanding dengan perempuan sepadan seperti Karina. Bukan dengan gadis miskin, anak pemabuk, yang hanya menjadi beban.
“Jojo,” panggilan Raymond memecah lamunan Jovita. Pria itu menatapnya dengan sisa-sisa ketegangan di wajahnya.
“Tolong temani Vio di atas. Tenangkan dia. Aku harus mengantar Karina pulang dulu.”
Jovita mengangguk patuh tanpa berani menatap mata suaminya.
“Baik, Om.
Di kamarnya yang luas, Viola sedang meluapkan emosinya.
Bantal-bantal berserakan di lantai, dan Viola terus terisak di atas ranjangnya.
Jovita duduk di tepi tempat tidur, mengusap punggung sahabatnya itu dengan sabar, mendengarkan segala sumpah serapah Viola untuk Karina.
“Dasar pelacur! Jalang murahan! Tidak ada perempuan yang boleh menikah dengan Papa selain Mama. Titik!”
“Vio, kamu juga semakin dewasa. Kamu akan menikah dan meninggalkan Om Ray, jadi… biarkan dia memilih teman hidupnya.” Jovita mencoba menjalankan misinya dengan hati-hati.
Viola mendadak berhenti menangis. Ia menoleh cepat, menatap Jovita dengan pandangan tajam dan penuh selidik.
“Kenapa sih, kamu selalu mendukung Papa untuk menikah lagi? Dibayar berapa kamu sama Papaku, Jo?”
Jovita mendadak gugup, persis seperti seorang maling yang tertangkap basah.
“Bu-bukan begitu, Vio. Maksudku… Om Ray juga butuh pendamping yang mengurusnya. Kamu tidak kasihan melihat papamu kesepian?”
“Terus kamu nggak kasihan sama mamaku? Mamaku dicerai, dicampakkan, dibuang begitu saja, dan sekarang harus hidup sendiri di luar sana.” Viola berteriak histeris.
Jovita bungkam. Ia memilih menurunkan kepalanya.
“Maaf.”
Satu kata yang lolos dari bibir Jovita seperti pengakuan kalah debat. Sampai saat ini, ia tak tahu alasan perceraian kedua orang tua Viola.
Tiba-tiba, ponsel Jovita yang tergeletak di atas nakas bergetar kuat. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan yang langsung membuat Viola menghentikan tangisnya.
Dylan.
Viola langsung menyipitkan matanya yang sembap.
Suasana hatinya yang sudah hancur lebur akibat kabar rencana pernikahan papanya, kini tersulut api cemburu yang membakar akal sehat.
Dylan, pria idaman yang selama ini Vio kejar mati-matian hingga merendahkan harga diri, justru terus-menerus mencari Jovita.
“Sebentar.”
Jovita berpamitan sedikit menjauh. Biasanya Dylan menghubunginya hanya untuk membahas tugas maket kuliah yang tenggatnya semakin mepet.
Viola bangkit meraih botol minum yang berada di meja rias. Dari dalam laci, Viola mengambil bungkusan kecil sambil melirik Jovita, seolah memastikan sahabatnya itu tidak melihat.
“Aku mau buat kopi dulu,” potong Viola dingin, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur dengan langkah tergesa-gesa.
Di depan konter dapur yang sepi, dengan pikiran diracuni cemburu pada Jovita, serta kemarahan akibat rencana pernikahan papanya. Ia merogoh saku roknya, mengeluarkan bungkusan kecil.
“Pakai ini kalau kamu sudah menemukan pria impianmu, Vio. Sedikit saja, dia pasti tidak akan bisa menolakmu.”
Kata-kata sang mama menari-nari di kepala Viola. Obat perangsang dosis tinggi itu adalah pemberian sang mama.
Awalnya ditujukan agar Viola bisa menggunakannya untuk menjerat Dylan.
Namun malam ini, setan di kepala Viola membisikkan rencana lain yang lebih kejam.
“Kau oleh ambil semua milikku, kecuali Dylan,” gumam Viola kejam. “Kita lihat, apa Dylan masih mau menatapmu setelah ini.”
Viola memasukkan serbuk dalam bungkusan itu, lalu mencampurnya dengan kopi hitam yang biasa menemani Jovita lembur mengerjakan tugas.
Viola tidak peduli kapan Jovita akan meminumnya. Begitu cairan itu masuk ke tubuh Jovita, sahabat miskinnya itu pasti akan kelimpungan menahan gairah yang tidak semestinya.
Dengan senyum puas yang mengerikan, Viola kembali ke kamar sambil membawa botol minum tersebut.
“Ini, Jo. Kopi kesukaanmu,” ucap Viola dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, menyodorkan tumbler maut itu kepada Jovita.
“Bawa pulang saja, buat teman ngerjain tugas.”
6. Hilang Kendali
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang.
Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.
Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"
Jovita sedikit tersentak, lalu mengangguk tak enak hati.
"Saya menemani Vio sampai dia tertidur, Om. Kamarnya sudah saya rapikan sedikit."
Raymond mengembuskan napas berat, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya.
"Apa dia masih marah?"
"Vio hanya kaget, Om," jawab Jovita dengan nada suara yang lembut, mencoba menenangkan. "Dia anak yang baik. Jika nanti Om memberinya penjelasan pelan-pelan, saya yakin Vio pasti akan memahami situasi dan posisi Om dengan Bu Karina."
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat-lekat kedewasaan yang terpancar dari gadis muda di hadapannya. Kontras sekali dengan putrinya yang egois.
"Sudah terlalu malam. Ayo, aku antar."
"Eh, tidak usah, Om. Saya bisa naik ojek."
"Jangan membantah, Jovita," potong Raymond tegas, suaranya mutlak dan tak menerima penolakan. "Meski kawasan kosmu aman, tapi jalanan tidak baik untuk anak gadis berkeliaran malam hari."
Seolah tidak memiliki pilihan, Jovita mengekor di belakang punggung lebar itu menuju mobil.
Di dalam kabin mobil hitam, Raymond mengemudikan mobil dengan santai, sesekali melemparkan obrolan ringan tentang perkuliahan Jovita dan persiapannya untuk mulai magang besok pagi. Jovita menjawabnya dengan sopan, mencoba mengikis rasa canggung.
Suasana akrab itu pecah saat ponsel Jovita yang diletakkan di dekat tuas transmisi bergetar. Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang sejak sore tadi tidak berhenti menghubunginya, Dylan.
Mata tajam Raymond melirik sekilas ke arah layar sebelum kembali fokus ke jalanan. Rahangnya tampak mengeras samar.
"Dylan? Kamu memiliki hubungan spesial dengannya?" tanya Raymond, nadanya terdengar datar namun menuntut jawaban. Ada amarah, tapi bukan cemburu.
Jovita menggeleng cepat, ada gurat ketakutan di wajahnya.
"Sama sekali tidak, Om. Dylan hanya teman. Lagipula... saya sangat tahu kalau Dylan adalah pria yang sedang diincar oleh Vio. Saya tidak mungkin mengkhianati sahabat saya sendiri."
Raymond hanya bergumam samar sebagai respons. Entah mengapa, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering dan panas. Ia meraba kompartemen di pintu mobil, mencari botol air mineral yang biasanya selalu tersedia di sana, namun nihil. Semuanya kosong.
“Om Ray cari apa?”
“Minum, biasanya saya menyiapkan di sini. Sepertinya habis.”
Ia teringat botol minum di pangkuannya.
"Ini... tadi Vio memberikan saya kopi di tumbler ini sebelum saya pulang. Kalau Om tidak keberatan, Om bisa meminumnya. Ini belum saya sentuh sama sekali."
Tanpa pikir panjang karena rasa haus yang membakar, Raymond menerima tumbler tersebut. Ia membuka tutupnya dan meminum cairan pahit itu. Mungkin tidak serta merta menghilangkan haus, tapi setidaknya membasahi tenggorokannya yang kering.
"Terima kasih." Raymond mengembalikan tumbler pada Jovita setelah menenggak setengah isinya.
Namun, hanya butuh waktu kurang dari lima menit setelah cairan itu masuk ke tubuhnya, Raymond mulai merasakan ada yang tidak beres.
Suhu di dalam kabin mobil yang ber-AC mendadak terasa seperti tungku api. Jantung Raymond berdentum gila-gilaan, memompa darah dengan kecepatan yang tidak wajar ke seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, jemarinya yang mencengkeram setir mulai bergetar dan berkeringat dingin.
Raymond menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kabut aneh yang tiba-tiba menyerang kesadarannya. Pandangannya mengabur.
Saat melirik ke samping, bayangan Jovita di mata Raymond mendadak berubah. Gadis yang biasanya tampak polos dan kekanakan itu, kini terlihat begitu ranum, memikat, dan memicu hasrat purba yang selama ini terkunci rapat di dalam dirinya.
"Om? Om Ray tidak apa-apa?" suara Jovita terdengar sayup-sayup, sarat akan kecemasan.
Raymond tidak menjawab. Ia memaksakan seluruh sisa kesadarannya untuk menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan hingga akhirnya mobil itu mandek dengan rem mendadak di depan gerbang kos eksklusif tempat Jovita tinggal.
"Om Ray, sakit?" Jovita panik saat melihat keringat bercucuran di pelipis Raymond.
Napas Raymond terdengar kasar dan berat. Pria itu mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Turun, Jo... Turun sekarang!" Suara Raymond serak dan bergetar menahan sesuatu yang bergejolak hebat di dalam dadanya.
"Tapi Om…"
"Aku bilang turun!" Raymond membentak rendah, mata elangnya kini berkilat merah, menatap Jovita dengan tatapan lapar yang menakutkan.
Jovita yang ketakutan segera membuka pintu mobil. Belum sempat turun, Jovita melihat kondisi Raymond yang tidak stabil dan memegangi kepala, membuatnya tidak tega pergi.
Sifat polos dan rasa berhutang budinya yang besar atas bantuan Raymond, membuat Jovita mengabaikan rasa takutnya dan mendekati Raymond yang sedang bersandar pada kap mobil.
"Om, tolong jangan mengemudi dalam kondisi seperti ini. Om istirahat saja dulu di kamar saya di atas, ya? Saya ambilkan air hangat."
"Masuk ke kamarmu dan kunci pintunya. Sekarang! Menjauh dariku!"
Raymond tahu ada yang salah dengan tubuhnya. Sesuatu telah meracuninya, dan akal sehatnya sedang berperang hebat melawan insting liar yang menuntut pelepasan.
"Tidak, Om! Saya tidak bisa meninggalkan Om Ray sendirian seperti ini!"
Jovita bersikeras karena khawatir. Gadis itu nekat maju, meraih lengan tegap Raymond untuk memapahnya.
Sentuhan kulit Jovita yang dingin pada lengannya yang panas menjadi titik ledak yang meruntuhkan seluruh pertahanan akal sehat Raymond.
Dengan susah payah akhirnya mereka tiba di kamar Jovita.
“Om Ray bisa istirahat dulu. Saya buatkan minuman hangat, semoga bisa membantu memulihkan kondisi Om.”
Jovita mendudukkan tubuh kekar Raymond di sofa ruang tengah, lalu bergegas menuju ke arah pantry kecil.
Hawa kamar yang terasa sedikit hangat, Jovita refleks melepas kemeja flanel andalannya dan menyampirkannya di kursi. Memperlihatkan tubuh kurus nan sintal yang kini dibalut oleh kaus rumahan tipis yang ngepas di badan, mencetak jelas lekuk tubuhnya.
Raymond merenggut dasinya hingga terlepas, membuka beberapa kancing kemejanya demi mencari oksigen. Nurani dan logikanya berteriak keras memerintahkannya untuk diam dan pergi.
Tapi, dorongan tak kasatmata membuat Raymond bangkit berdiri dengan langkah goyah, menghampiri Jovita di pantry.
Raymond sadar ini salah, tapi ia benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
“Om.” Jovita tersentak kaget saat membalikkan badan dan menyadari Raymond sudah berdiri begitu dekat, mengurung tubuhnya di depan meja pantry.
“Maaf.” Suara Raymond bergetar parau, matanya menggelap oleh pekatnya gairah. “Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar sudah tidak mampu mengendalikan diriku lagi.”
“Om….”
Belum sempat Jovita melanjutkan kalimat penolakannya, Raymond sudah menunduk, melabuhkan bibirnya dengan panas dan menuntut di atas bibir tipis gadis itu.
7. Miliki Aku, Om!
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam.
Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.
“Jojo…”
Raymond menarik tautan bibir mereka sesaat. Suaranya parau, pecah oleh erangan yang terdengar seperti rintihan kesakitan. Napasnya yang memburu terasa panas di wajah Jovita.
“Seharusnya kau berlari menjauh... sekarang juga, Jojo... sebelum aku benar-benar merusakmu,” bisik Raymond, peringatan itu terdengar seperti sebuah permohonan frustrasi.
Tapi tangan Raymond justru bertolak belakang dengan ucapannya. Jemarinya menyusup ke balik kaus tipis Jovita, menyentuh kulit hangat di pinggang gadis itu. Sentuhan itu membuat Jovita tersentak, tubuhnya menggigil.
Raymond mengangkat wajahnya. Matanya merah, rahangnya mengeras menahan gejolak yang menyiksa. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ada rasa bersalah saat menginginkan gadis yang selama ini dia lindungi.
Jovita menatapnya dengan sepasang mata yang melebar, dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Pria di hadapannya saat ini terasa seperti orang asing.
Sebelum malam ini, Raymond adalah sosok yang selalu menjaga jarak. Setiap kali pria itu mendatangi Maximilian Residence, kos eksklusif miliknya, selalu bersikap dewasa dan formal, layaknya seorang ayah angkat, atau pemilik properti yang sekadar meminta laporan administrasi bulanan.
Hanya sebatas itu. Pria itu tidak pernah lepas kendali, apalagi terlihat tersiksa seperti malam ini.
“Apa yang terjadi, Om?” tanya Jovita dengan suara lirih yang bergetar.
Gadis itu mencoba mendorong dada bidang Raymond, berusaha mencari ruang untuk bernapas di tengah kepungan aroma maskulin pria itu yang memabukkan.
“Kenapa Om seperti ini?”
“Sial... tubuhku...” Raymond mengerang frustrasi, lalu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jovita. Pria itu melabuhkan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di sana, mengisap kulit leher Jovita hingga membuat seluruh tubuh gadis itu meremang hebat.
“Ini tidak benar, Jo... ini benar-benar menyiksaku,” rintih Raymond di atas kulitnya. “Aku merasa seperti di bawah kendali obat perangsang. Sesuatu membakar tubuhku dari dalam!”
Jovita terbelalak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. “O-obat perangsang? Bagaimana mungkin, Om?”
“Kopi itu...” Raymond menatap Jovita dengan pandangan beralih antara kabur dan menuntut. “Sepertinya dari kopi yang kau berikan tadi.”
Wajah Jovita seketika pias, menggeleng cepat dengan kepanikan yang sangat.
“Tidak mungkin, Om! Kopi itu... itu pemberian dari Vio. Buat apa Vio?”
Raymond mencengkeram kedua bahu Jovita, sedikit menekannya ke belakang hingga gadis itu terperangkap sepenuhnya. Sorot mata Raymond yang biasanya teduh kini berkilat liar, dipenuhi kecurigaan dan gairah.
“Kau tidak sedang menjebakku, kan, Jovita?” tanya Raymond dengan suara rendah yang mengintimidasi. “Jawab aku!”
“Tidak, Om! Demi Tuhan, aku melakukannya!” Jovita setengah terisak, suaranya bergetar hebat.
Jovita berusaha melepaskan dirinya. Gerakan Raymond semakin tidak terkendali.
“Argh! Om...”
Satu erangan lolos dari bibir Jovita saat tangan Raymond bergerak naik dan meremas dadanya di balik kain kaus. Remasan yang menuntut, penuh kepemilikan yang primitif.
“Maaf...” ucap Raymond dengan suara yang kian serak, nyaris tak terdengar.
Alih-alih menarik tangannya, Raymond justru meremasnya semakin intens, menuntut penyerahan yang lebih dalam. Pria itu benar-benar telah kehilangan kendali atas akal sehatnya.
“Om… emmph….”
Raymond kembali membungkam mulut Jovita dengan ciuman yang lebih dalam, melumat bibir ranum itu hingga kata-kata Jovita tertelan kembali di tenggorokan.
Jovita memejamkan mata erat-erat. Sentuhan Raymond mengirimkan gelombang kenikmatan yang asing sekaligus menyiksa. Di balik kegelapan matanya, bayangan wajah Karina dan Viola tiba-tiba melintas, menghadirkan rasa bersalah yang menghimpit dada.
Tapi, sebuah pikiran lain tiba-tiba menyelinap ke benak Jovita.
Pria yang sedang memeluknya dengan frustrasi ini adalah pria yang telah membiayai dua semester kuliahnya tanpa mengeluh. Pria yang memberinya tempat tinggal mewah, perlindungan dari kejamnya dunia luar, dan selalu memperlakukannya dengan baik, meski Jovita hanyalah gadis miskin yang tak punya apa-apa.
Sementara itu, sampai detik ini, tugas yang dibebankan di pundaknya belum juga berhasil Jovita selesaikan. Jovita merasa berutang pada pria ini.
Lalu, salahkah jika malam ini Jovita memberikan apa yang dibutuhkan Raymond?
Dengan tangan gemetar, Jovita perlahan memberanikan diri menyentuh rahang tegas Raymond yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Air matanya jatuh dengan lambat, membasahi pipinya yang merona panas.
“Om…” Suara Jovita lirih, penuh kepasrahan yang tulus. “Aku istrimu.”
Raymond seketika membeku. Gerakan tangannya terhenti, matanya menatap Jovita dengan tatapan yang campur aduk antara tidak tega dan hasrat yang kian memuncak.
Jovita menarik wajah Raymond mendekat, menciumnya dengan polos namun penuh ketulusan. Lalu, dengan suara yang bergetar karena malu dan penyerahan diri, ia berbisik di bibir Raymond yang basah.
“Miliki aku, Om.”