Memuat promosi...
TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA
"Istriku memiliki penyakit langka. Jika kamu bisa menakhlukkan dan menyembuhkannya, maka aku akan berikan sepuluh miliar untukmu!" Bejo yang baru kerja tiga hari bekerja di rumah itu sebagai sopir pribadi pun nampak terkejut dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan rumah. "Bagaimana caranya, Tuan?" "Bercintalah dengannya!"
Bab (1)
第1章
"Istriku memiliki penyakit langka. Jika kamu bisa menakhlukkan dan menyembuhkannya, maka aku akan berikan sepuluh miliar untukmu!"
Bejo yang baru kerja tiga hari bekerja di rumah itu sebagai sopir pribadi pun nampak terkejut dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan rumah.
"Bagaimana caranya, Tuan?"
"Bercintalah dengannya!"
Bab 01. Bercintalah Dengannya
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan."
"Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil."
"Masuk dulu sana!"
Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikannya. Pria berusia 23 tahun itu pun berlari menuju kamar utama. Namun saat baru saja sampai di ujung tangga. Bejo mendengar ribut-ribut yang berasal dari dalam kamar.
"Kamu kalau begini terus, gimana kita mau punya anak? Mamah tuh sudah mendesak aku. Kamu nggak paham kewajiban kamu. Percuma aku punya istri kalau kamu begini."
"Mas tapi aku memang sulit menerima kamu. Sakit, Mas. Kita bisa usaha lagi, Mas. Jangan menyerah! Aku masih mau."
"Mau usaha seratus kali pun kalau kamu terus menolak saat aku masukin, gimana mau bisa? Kamu taunya aku harus sabar, sabar, dan sabar. Kamu sendiri nggak bisa usahakan. Gila kamu tuh! Satu tahun aku sama sekali belum bisa menikmati tubuh kamu. Menikah tanpa bercinta, hambar rasanya, Mila!"
Deg
Bejo terbeliak mendengar apa yang Tuannya katakan. Satu tahun menikah belum bercinta? Gila! Betah banget. Padahal istri dari majikannya itu sangatlah cantik dan juga seksi. Mana betah melihat tanpa menikmati?
"Bejo!"
"Eh iya, Tuan. Saya di sini. Ada apa, Tuan?" tanya Bejo kemudian mendekati majikannya. Bejo melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka dan terlihat Nyonyanya nampak sedih.
"Ikut saya ke ruang kerja!" perintah pria yang berkuasa di rumah ini.
"Baik, Tuan."
BRUGHH
Kedua mata Bejo terbelalak melihat banyaknya uang diletakkan di atas meja kerja Tuannya. Bejo menelan kasar salivanya kemudian melirik ke arah pria matang itu yang nampak gagah dan berkharisma.
"Kenapa? Mau?"
Bejo meringis mendengar itu. "Siapa yang nggak mau sama uang Tuan, tapi ini maksudnya apa, Tuan?" tanya Bejo dengan sangat berhati-hati sekali.
Pria itu pun terlihat duduk di kursi kebesarannya dan Bejo memperhatikan dengan sedikit membungkuk. Dalam hati Bejo masih bertanya-tanya, untuk apa uang sebanyak itu dikeluarkan dari dalam brangkas?
"Duduk dulu!"
"Baik, Tuan."
Bejo pun segera duduk di seberang pria itu kemudian mengalihkan pandangan dari hal yang sangat menggoda di depan mata.
"Istri saya mengalami penyakit langka yang tidak semua wanita mengalaminya. Saya akan kasih kamu sepuluh miliar, lebih dari yang kamu lihat saat ini kalau kamu bisa menyembuhkannya."
Bejo menganga mendengar apa yang pria itu katakan. Ini Tuannya serius atau tidak sich? Dalam hati Bejo pun ragu. Penyakit apa memangnya yang diderita Nyonya?
"Apa tugas saya, Tuan?" tanya Bejo tanpa ragu. Kali ini dia benar-benar penasaran karena bayaran dengan jumlah sangat banyak sudah ada di depan mata.
"Gampang saja. Kamu hanya perlu menyentuh istri saya."
"Me... Me... Menyentuh, menyentuh gimana maksudnya, Tuan?"
"Bercintalah dengannya! Ingat, ini tugas dan perintah! Ini menjadi salah satu pekerjaanmu. Bukan hanya main-main dan ingin menikmati tubuh istri saya saja. Kalau kamu berhasil bercinta dengannya, maka uang seratus kali lipat dari apa yang kamu lihat ini akan menjadi milikmu!"
Bejo semakin dibuat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bejo melirik uang yang ada di atas meja saja sudah membuatnya menelan ludah.
Godaan dunia sangat jelas di depan mata. Apalagi harus menyentuh istri orang. Apa tidak enak coba?
"Maaf Tuan, tapi apa yang Nyonya derita selama ini? Maaf kalau saya lancang. Saya juga harus tau penyakit apa yang Nyonya alami agar saya tau cara menyembuhkannya."
"Vaginismus."
"Apa itu vaginismus, Tuan?" tanya Bejo yang sama sekali tidak tau kalau ada penyakit dengan nama seperti itu.
Kedua alis Bejo menukik kala mendengar penjelasan dari Tuan Saka, pria yang akan mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik dengan uang sepuluh miliar.
"Penyakit yang sangat langka terjadi pada wanita. Entah apa alasannya, dia tidak bisa aku masukin. Saat penetrasi dia bisa menerima tetapi saat aku hendak masuk, dia selalu kesakitan bahkan meronta dan menolak. Kamu sudah paham sekarang?"
"Ta... Tapi Tuan, bagaimana kalau Nyonya menolak? Saya hanya sopir pribadi beliau dan saya baru tiga hari bekerja di sini. Kami pun belum dekat Tuan dan apa Nyonya mau dengan saya?"
"Hahahaha jangan kamu pikir saya tidak tau, Bejo! Di kampus wanitamu banyak bukan? Kamu kerja untuk bisa bayar kuliah. Dengan uang yang saya berikan, tidak kuliah pun kamu tidak akan diinjak-injak orang."
"Lagi pula dari segi penampilan kamu tidak buruk. Kamu tampan dan tubuhmu juga proposional. Hanya saja kurang diolah sedikit. Kamu berpendidikan, kamu bekerja karena untuk membayar kuliah bukan hanya sekedar untuk makan. Tidak buruk!"
"Satu lagi, saya tidak menerima penolakan! Ini sebagian dari pekerjaan kamu. Jika tidak mau, maka kamu akan saya pecat!"
Deg
"Waaaahhhh jangan dong, Tuan! Bulan depan saya harus bayar semester. Nggak lucu kalau saya sampai dipecat. Nanti kuliah saya gimana. Oke saya akan terima tapi saya tidak bisa pastikan Nyonya mau dengan saya."
"Itu urusan gampang! Tugasmu hanya satu, sembuhkan dia dari penyakitnya! Setelah dia bisa menerimamu maka tugasmu selesai," sahut Tuan Saka dengan santainya.
Namun pertanyaan dari Bejo selanjutnya membuat pria itu hampir saja melempar vas bunga ke kepala Bejo.
"Bagaimana kalau sampai Nyonya ketagihan dengan saya Tuan, terus tidak mau lepas?" Pertanyaan yang sangat berani tak mengira akan kena amuk Tuan Saka.
"Mati saja kamu, Bejo!"
Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!"
"Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya.
Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantakan. Mungkin tadi kedua majikannya baru selesai mencoba lagi untuk bercinta tetapi tidak ada hasilnya.
Kedua mata Nyonya Mila juga terlihat sembab. Bejo sedikit tak tega tetapi tugas yang diberikan oleh Tuan Saka sudah ia tanda tangani dan Bejo tak lagi bisa mundur.
"Aku akan beri kamu kesempatan, tapi kamu harus nurut dengan apa yang aku perintahkan!"
"Mas!"
"Diam, Mila!"
Wanita itu pun memejamkan kedua mata terlihat begitu sangat gemas dengan Tuan Saka. Bejo terus saja memperhatikan Nyonya Mila. Dalam hati kasihan, cantik tapi harus mendapatkan penyakit seperti itu.
"Aku sudah membayar mahal Bejo untuk membantu menyembuhkanmu. Aku sadar, aku juga mengalah, mungkin tidak denganku kamu bisa ditaklukkan. Berulang kali aku sudah mencoba tapi kamu tidak bisa membuka kaki untukku."
Bejo melirik Tuan Saka kemudian beralih pada Nyonya Mila yang terlihat semakin penasaran akan apa penjelasan selanjutnya. Terlihat jelas Nyonya Mila pun nampak malu dengannya.
Bejo menarik nafas dalam menguasai diri kalau-kalau melihat Nyonya Mila ngamuk setelah tau rencana suami beliau. Memang sangat keterlaluan dan gila. Haish... !
"Kali ini aku hanya minta kamu pasrah, biar Bejo yang melakukan tugasnya. Aku berikan kesempatan untukmu bercinta dengannya sampai kamu benar-benar bisa sembuh. Mungkin saja fantasimu akan liar jika tidak denganku dan kamu bisa rileks dengan orang baru."
"Mas... Kamu..."
"Jangan katakan aku tega padamu, Sayang! Justru ini caraku untuk tetap mempertahankanmu. Kalau kamu tidak mau, maka kita bercerai dan aku akan mengembalikan kamu pada keluargamu yang taunya hanya uang dan uang itu. Bagaimana? Akh tidak! Ini bukan penawaran dan kamu harus setuju."
"Mas apa tidak ada cara lain selain ini? Aku..."
Mila melirik Bejo yang kemudian menunduk kala kedapatan memperhatikan wanita itu. Bejo berusaha untuk tetap diam tanpa memberikan ekspresi apapun.
"Aku baru kenal dengannya, Mas. Kenapa kamu tega sekali membiarkan tubuhku dilihat oleh laki-laki lain? Aku ini istri kamu loh, Mas! Dengan cara yang seperti ini sama saja kamu sudah sangat menyakiti aku, Mas!"
"Sakit mana dengan Mamah yang menganggap kamu mandul karena belum bisa memberikan cucu? Ingat! Aku ini anak satu-satunya. Sakit mana dengan anggapan orang yang buruk padamu? Katanya kamu mencintaiku. Kenapa tidak mau berkorban untukku, hhmm?"
Dengan sedikit perdebatan ini, Bejo paham apa yang terjadi pada kedua majikannya. Bejo sedikit demi sedikit mulai tau jika masalah ini menyebabkan pandangan buruk dari keluarga Tuan Saka dan ada masalah juga di tengah keluarga Nyonya Mila.
"Keluarga yang rumit! Tapi tugasku tak kalah demit. Dengan Tuan Saka yang terlihat gagah perkasa saja Nyonya kaku, apalagi aku yang notabene brondong. Apa mungkin punya Tuan Saka sebesar singkong, maka dari itu Nyonya jadi takut menerima milik suaminya? Akh tapi milikku ...."
Otak Bejo malah sibuk sendiri memikirkan itu semua seraya menunggu perdebatan di antara kedua majikannya usai.
"Mas tapi aku nggak bisa."
"Harus bisa! Kurang apa aku setahun ini sabar denganmu? Mulai malam ini, kamu harus melakukan pendekatan dengannya. Aku tidak memaksa untuk kalian bisa langsung bercinta tetapi setidaknya setiap harinya harus ada perkembangan."
Tuan Saka melihat ke arah Bejo dan juga sang istri bergantian. Gerak gerik pria itu terlihat tanpa beban dan itu ditangkap langsung dari indera penglihatan Bejo.
"Anggap saja kalian sedang pacaran atau pasangan selingkuh. Mungkin dengan pemikiran itu, gairahmu akan membara dan bisa bercinta dengannya."
Bejo menelan kasar salivanya mendengar apa yang Tuan Saka katakan. Nyonya Mila yang diberikan arahan, Bejo yang kebagian membayangkan betapa indahnya wanita itu di bawah kungkungannya.
Namun kalau melihat wajah Nyonya Mila sekarang, Bejo sedikit iba. Bejo meringis dan kembali menundukkan kepala.
"Kasihan, tapi lebih kasihan lagi kalau sampai dicerai. Akh kalau aku jadi Nyonya ya lebih memilih bercerai saja, tapi bunuh diri namanya kalau sampai dikembalikan pada keluarga yang hanya tau uang dan uang. Maju kena, mundur juga kena."
Berisik sekali otak Bejo. Dia masih senantiasa berdiri di sana sampai dimana Tuan Saka memanggilnya.
"Bejo! Mulai besok malam kamu bebas tidur di kamar ini dan mungkin saya akan tidur di kamar tamu. Kebetulan juga besok saya ada perjalanan bisnis keluar kota. Jadi selama saya tidak ada di rumah. Tugasmu harus dilaksanakan dengan baik dan tentu saja harus ada hasil. Paham!"
"Paham, Tuan."
Bejo mengangguk bersedia dan Nyonya Mila menatap jengah kesediaannya akan tugas yang diberikan itu. Bejo pun melirik Nyonya Mila yang kemudian membuang muka enggan melihatnya.
"Gimana caranya kalau melihatku saja, dia muak? Memangnya aku jelek banget apa? Apa kurang wangi? Kayaknya besok harus ganti parfum yang bisa membuat Nyonya klepek-klepek jadinya."
Keesokan paginya, Bejo yang sedang membersihkan mobil pun melihat Tuan Saka berangkat dengan Nyonya Mila yang mengantar sampai teras.
Bejo menghentikan pergerakan dan interaksi mereka. Kalau dari jauh seperti sudah akur, tapi kedua mata Nyonya Mila terlihat bengkak pagi ini.
"Hati-hati ya, Mas! Kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku!"
"Kamu juga tidak perlu sampai malam-malam di toko. Ingat! Jangan kelelahan yang akhirnya membuatmu semakin susah untuk sembuh. Terima, Bejo! Anggap saja itu aku. Syukur-syukur setelah kepulanganku nanti, kamu sudah bisa melayaniku."
"I...Iya, Mas. Akan aku usahakan."
Bejo segera membuang muka kala Nyonya Mila menoleh ke arahnya. Dia meringis setelah ketahuan memperhatikan mereka.
"Bejo, antar saya ke bandara!" perintah Tuan Saka dan Bejo segera beranjak dari sana.
"Baik, Tuan. Silahkan masuk!" kata Bejo kemudian membukakan pintu mobil.
"Mas!"
Namun panggilan dari Nyonya Mila membuat Bejo kembali menoleh ke arah wanita itu. Nyonya Mila melangkah mendekati Tuan Saka yang berdiri di hadapannya kemudian mengecup bibir beliau.
Bejo pun kemudian membuang muka setelah melihat adegan itu. Bejo sedikit mundur memberikan ruang agar mereka bisa saling bermesraan terlebih dahulu.
Setelah Nyonya Mila mundur dan kembali ke teras rumah, Bejo bergerak untuk segera menutup pintu mobil. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, otaknya kembali dibuat kotor dengan apa yang Tuan Saka katakan.
"Lihat, Bejo! Istri saya sebenarnya sangat agresif sekali. Hanya saja penyakit itu sangat berengsek sudah membuatnya sulit saya nikmati."
"Iya, Tuan."
"Taklukan dia! Dia paling suka disentuh tepat di titik sensitifnya. Kamu tau bagian itu bukan?"
Bab 03. Sampai Klimaks
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara.
Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan. Dia butuh nutrisi untuk bisa menghadapi Nyonya di rumah ini.
"Bejo kamu dipanggil Nyonya!" seru Bibi dan Bejo berdecak mendengar itu.
Baru juga mau nyuap, sudah kembali mendapatkan panggilan dari Nyonya besar. Bejo terpaksa meninggalkan piringnya kemudian melangkah menuju ruang kerja milik Nyonya Mila.
Ruangan itu sangat rapi, cantik, dan didominasi dengan warna pink. Cewek abis pokoknya. Yang Bejo tau, Nyonya Mila baru berusia tiga puluh tahun. Masih mudalah ya. Beda lima sampai enam tahun dengannya.
Langkah Bejo terhenti di depan ruang kerja wanita itu kemudian mengetuk pintu sebelum masuk. Bejo menarik nafas dalam sebelum melangkah menemui Mila.
"Masuk!"
Tanpa menunggu lama, langkahnya membawa dia untuk bisa melihat Nyonya Mila yang tengah duduk di kursi kerja. Pandangan wanita itu begitu tajam memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Namun dari tatapan mata itu tersirat sebuah gurat frustasi yang Bejo temukan.
"Duduk!"
"Baik, Nyonya."
"Malam ini kamu sudah siap?"
Deg
Ditembak pertanyaan seperti itu tentu saja jantung Bejo mendadak kaku. Sempat seperkian detik tidak berdetak hingga Bejo menyentuh dadanya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nyonya Mila dan Bejo meringis mendengar itu.
"Nyonya sudah yakin sama saya?"
"Bukankah ini tugasmu? Dibayar berapa kamu sama suami saya sampai-sampai kamu menyanggupi tugas ini? Apa kamu sudah tau masalah yang saya alami selama ini?" cecar Nyonya Mila dan Bejo menjawab dengan anggukan.
"Berapa?"
"Banyak, Nyonya."
"Oke, tantangan kamu dari saya pun harus bisa kamu lakukan."
"Tantangan apa, Nyonya?" tanya Bejo bingung.
Ada lagi ternyata tantangannya selain menjamah Nyonya Mila untuk menyembuhkan wanita itu. Bejo begitu sangat penasaran sekali tetapi dia cukup berhati-hati akan tantangan dari Nyonya Mila.
"Mudah saja, saya akan menambah bayarannya sama besarnya dengan apa yang kamu dapatkan dari suami saya asal kamu bisa membuat saya hamil."
Bejo tercengang mendengar itu. Kemarin tugasnya hanyalah menjamah agar Nyonya Mila bisa sembuh dan menerima sentuhan dari Tuan Saka.
Sekarang, justru wanita itu memberikan tugas tambahan dengan syarat harus bisa sampai hamil. Namun mana mungkin menolak? Bejo menelan kasar salivanya seketika mengingat akan nominal yang ia dapatkan nanti.
"Bagaimana? Kalau kamu bisa, saya akan memberikan sebesar apa yang kamu dapatkan dari suami saya. Bukankah itu sangat menguntungkan untukmu?"
"Tapi Nyonya, Tuan meminta saya hanya untuk sekedar menyentuh Nyonya, membuat Nyonya terbiasa bercinta dan menerima milik Tuan. Bagaimana kalau sampai Tuan tau saya menghamili Nyonya? Bisa mati saja, Nyonya."
"Saya tidak perduli. Itu tugas kamu memikirkan bagaimana caranya agar kamu tidak mati di tangannya. Saya hanya ingin membalasnya atas apa yang dia lakukan. Kamu tentu paham, rencana ini sangat gila."
"Tapi bukankah ini akan membuat Tuan membenci Nyonya? Bagaimana jika Nyonya malah dicerai oleh Tuan jika beliau tau anak yang dikandung Nyonya bukan anaknya?"
"Untuk yang itu bukan urusanmu! Tugasmu dari saya hanya satu. Hamili saya! Paham!" sahut Nyonya Mila yang ternyata rencananya lebih gila dari Tuan Saka.
Itu artinya, mereka benar-benar bercinta dan bukan hanya sekedar masuk saja. Namun benar-benar sampai klimaks dan membuang benih ke dalam rahim wanita itu. Gila! Gila!
"Tunggu! Nominal yang Tuan berikan sangat besar Nyonya. Apa Nyonya sanggup membayar saya dengan nominal yang sama?" tanya Bejo sedikit memberikan kesempatan pada wanita itu untuk bisa berpikir ulang.
Siapa tau Nyonya Mila mau berubah pikiran. Sebenarnya enak-enak saja baginya tetapi resiko tentu sangat besar. Bisa jadi nyawa taruhannya jika Saka tak terima.
Malas Bejo memikirkan cara selanjutnya untuk menghadapi Tuan Saka jika dia berhasil menghamilinya Nyonya Mila.
"Berapa?"
"Sepuluh miliar."
Bejo memperhatikan mimik wajah wanita itu. Bejo sama sekali tidak melepas pandangannya dan ingin sekali melihat reaksi dari wanita itu setelah tau nominalnya.
"Akan aku transfer setelah aku benar-benar dinyatakan positif hamil."
Bejo menarik nafas dalam mendengar jawaban dari Nyonya Mila. Fiks! Sakit hati sekali sepertinya wanita ini pada suaminya hingga menyanggupi uang yang harus di berikan padanya.
"Dua puluh miliar. Ugh... Duit gue sebanyak apa nanti? Auto gendut rekening gue," batin Bejo.
"Kamu sanggup?"
"Saya usahakan tetapi apa Nyonya benar-benar bisa diajak kerja sama? Saya ya begini adanya. Nyonya mau tidur sama saya?"
Nyonya Mila kembali melihat penampilan Bejo. Wanita itu bersilang tangan di dada kemudian meminta Bejo untuk beranjak dari duduknya.
"Berdiri!"
Bejo pun segera berdiri gagah menghadap pada Mila yang detail memperhatikan sampai ke titik sensitif yang tentunya akan berperan penting nantinya.
"Besar atau kecil?"
"Wah jangan ragukan, Nyonya. Nanti Nyonya bisa lihat sendiri."
Nyonya Mila menganggukkan kepala kemudian meminta Bejo untuk berputar.
"Berbalik!"
"Siap, Nyonya."
Bejo pun berbalik dan entah apa yang diperhatikan oleh wanita itu saat dia sedang dalam posisi seperti ini. Bejo menunggu sampai wanita itu memintanya untuk kembali berputar.
"Oke. Nanti malam tidur sama saya!"
Bejo pun segera berbalik dengan kedua alis terangkat mendengar apa yang Nyonya Mila katakan. Entah hubungan apa yang akan terjalin diantara mereka. Kontrak sudah dia sepakati oleh kedua pihak dan waktunya Bejo untuk bersiap melaksanakan tugasnya.
"Baik, Nyonya."
"Oke, kamu bisa pergi sekarang dan jangan lupa! Jam satu kamu harus antar saya ke toko."
"Siap, Nyonya. Saya ijin makan dulu."
"Hhmm..."
Bejo pun segera pergi dari sana. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Langkahnya kembali ke dapur dan mengangkat lagi piring yang berisikan makanan miliknya tadi.
"Dua puluh miliar."
Bejo menyeringai membayangkan uang itu kemudian makan dengan sangat lahap. Namun suara mobil yang datang membuatnya menoleh memperhatikan siapa yang berkunjung dari celah jendela.
"Itu siapa?" Gumam Bejo seraya menghabiskan makannya.
Dia melihat ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan sangat angkuhnya. Kedua alis Bejo menukik melihat itu dan dia meringis kala mendengar suara wanita tersebut menggelegar berisik sekali.
"Mila! Mila! Keluar kamu, Mila!
"Siapa sich, heboh banget!" gumam Bejo seraya mencuci tangan kemudian mendekati wanita paruh baya yang terlihat sinis sekali.
"Maaf, anda mencari Nyonya Mila?"
"Iya, dimana dia?"
"Ada di atas. Sebentar saya panggilan dulu!" kata Bejo kemudian menaiki tangga menuju ruang kerja Mila.
Namun sebelum Bejo masuk ke dalam ruang kerja Nyonya Mila, wanita cantik itu sudah keburu keluar.
"Mau apa lagi kamu ke sini?"
"Itu Nyonya ada..."
"Oh ya, jangan lupa dicukur sampai bersih itunya. Saya nggak suka yang lebat," tunjuk Nyonya Mila ke bagian bawah hingga Bejo seketika menutupi pangkal pahanya.
Bab 04. Mandul
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya.
"Apaan sich? Heboh banget!"
"Kalau begitu, seenggaknya kasihlah Saka kesempatan untuk menikah lagi. Malu saya tuh setiap kali ditanya oleh teman-teman arisan tentang kamu tapi nggak ada yang bisa saya banggakan dari kamu, Mila!"
PLAAAAKKK
Bejo mengusap pipinya sendiri setelah menyaksikan dengan mata kepala betapa ngamuknya wanita tua itu yang tiba-tiba menampar Nyonya Mila.
"Oh jadi ini mertuanya Nyonya, pantes aja. Kasihan juga kalau begini. Bisa mental Nyonya kalau sampai terus-terusan dirong-rong sama mertua modelan ibu tiri."
Bejo menyilangkan tangan di dada memperhatikan apa yang terjadi dengan Nyonya Mila dan juga mertua dari wanita itu.
"Mah, Mila sudah berusaha tapi memang belum dikasih kepercayaan. Lagi pula satu tahun waktu yang belum terlalu lama, Mah. Masih banyak yang lebih dari itu tapi mereka sabar menunggu. Mila nggak diam aja kok, Mah."
Kedua mata Nyonya Mila nampak memerah menyimpan kesedihan begitu pun dengan mertua galak itu. Kedua mata wanita tua itu pun terlihat memerah tapi karena penuh amarah.
"Telan bulat-bulat sabarmu itu, Mila! Kata sabarmu tidak bisa menghilangkan rasa malu saya di depan teman-teman arisan saya. Lagi pula saya kok curiga memang yang bermasalah itu kamu! Kamu yang nggak bisa! Kamu yang sudah membuat Saka susah memberikan cucu untuk keluarga kami!"
Bejo menelan kasar salivanya melihat wanita tua itu menunjuk-nunjuk wajah Nyonya Mila. Bejo diam di balik tangga, memperhatikan sikap wanita tua itu dengan kedua tangan terkepal kuat.
"Nenek-nenek kalau ngomong nggak ada remnya. Ngegas aja udah kayak rem blong. Gue sumpahin tuh bibir kecengklak!" gumam Bejo yang makin lama semakin emosi melihat apa yang ada di depan matanya saat ini.
"Gue kalau punya mertua kayak itu. Udah gue santet jadi bogel! Ngeselin banget punya mulut nggak bisa dijaga. Bukannya ngasih dukungan malah bikin orang tambah mental. Jadi nggak sabar pengen gue buntingin si Nyonya."
Bejo mendengus kesal dan semakin memperhatikan percakapan kedua wanita di sana. Tatapan mata Bejo terus mengarah pada bibir wanita tua itu dan juga wajah Nyonya Mila yang terlihat berusaha untuk tetap tegar menghadapi ibu mertua kejam.
"Ini sich demit aja kalah galaknya."
Bejo menggelengkan kepala kala melihat wanita tua itu amat sangat gemas dan ingin kembali memberikan sebuah tamparan pada Mila tetapi ditahan oleh majikannya.
"Nah! Gitu, Nyonya! Lawan! Udah bener begitu. Jangan mau dihajar terus!" Bejo meninju udara melihat apa yang Nyonya Mila lakukan saat ini.
"Aku memang belum bisa hamil Mah, tapi aku tidak mandul! Akan aku buktikan dalam waktu dekat ini, aku bisa hamil. Satu lagi! Mamah nggak perlu pakai kekerasan begini! Tanpa tamparan dari Mamah, aku sudah sadar kalau sejak awal memang Mamah nggak suka sama aku."
Mila melepaskan tangan Ibu mertua dengan sedikit menyentak hingga membuat kedua mata beliau terlihat semakin tak terima dan tubuh terhuyung ke belakang.
"Kamu itu memang menantu kurang ajar ya! Udah nggak bisa nyenengin orang tua, berani kamu melawan saya! Kamu kampungan tau nggak! Salah memang sejak awal Saka memilih kamu menjadi istri. Kamu nggak tau sopan santun."
Mila menyeringai mendengar apa yang wanita tua itu katakan. "Mau sehebat apapun, sebaik apapun yang dilakukan. Aku kan tetap buruk dimata seorang pembenci karena Mila seperti apa yang Mamah pikirkan. Mila akan tetap buruk karena Mamah tidak suka dengan Mila."
"Iya, memang saya tidak suka. Makanya saya datang dan ingin memperingatkan kamu. Saya kasih waktu tiga bulan. Kalau sampai dalam waktu tiga bulan kamu belum juga bisa hamil, maka tinggalkan anak saya! Mengerti kamu!"
"Saya terima tantangan dari Mamah," jawab Mila dan Bejo menepuk sekali tangannya mendengar itu.
"Nah! Gitu, Nyonya! Ditantang? Ambil! Gue buntingin loe malam ini juga! Gedek banget liat Mak lampir begitu."
Bejo ikut emosi jadinya. Tak lama wanita tua itu pun segera pergi dan dia segera mendekati Nyonya Mila. Bejo melirik keluar sampai dimana suara mobil sudah terdengar meninggalkan rumah ini.
"Nyonya," panggil Bejo dan wanita itu mengangkat satu tangan membuatnya merapatkan bibir.
"Oke, silahkan istirahat, Nyonya!"
Mila pun segera pergi dan Bejo memperhatikan sampai dimana wanita itu berhenti di ujung tangga.
"Bukankah kamu mau ke kampus, Bejo?"
"Iya, Nyonya."
"Saya akan bersiap-siap dan antar saya dulu ke toko."
"Nyonya nggak istirahat dulu? Itu omongannya terlalu pedas, Nyonya. Saya tunggu sampai Nyonya sedikit tenang."
"Saya sudah biasa."
Kedua alis Bejo menukik mendengar jawaban dari Nyonya Mila yang kemudian meneruskan langkah menuju kamar. Bejo menggeleng kepala dan berbalik ke kamar.
"Gila sich! Kuat juga mentalnya si Nyonya tapi gue rasa itu perempuan sampai kamar mewek. Akh! Terlalu sayang sebuah berlian disia-siakan. Kalau gue punya bini begini. Nggak bisa hamil juga tetap gue sayang. Kurang apa coba? Mau nyari yang sempurna? PO sama Tuhan sampai mati!"
Bejo merapikan buku-buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Memang sudah ada perjanjian kalau waktu bekerja akan menyesuaikan dengan jadwal ngampusnya. Kebetulan memang Bejo ngampus di siang hari. Jadi tidak mengganggu pekerjaannya menjadi sopir.
"Bejo! Ayo buruan!"
Deg
Bejo terkejut kala mendengar suara Nyonya Mila yang tiba-tiba begitu dekat. Perasaan tadi baru aja naik ke kamar. Sontak Bejo menoleh dan melihat Nyonya Mila dengan penampilan yang anggun siap untuk berangkat.
"Eh iya, Nyonya. Ayo! Tapi maaf Nyonya, itu roknya nggak ada yang lebih pendek lagi?"
"Kenapa? Mata kamu sakit melihat ini? Suami saya saja bahkan menjual harga diri saya demi untuk bisa memuaskan dia nantinya. Jadi kamu nggak perlu repot!" jawab wanita itu kemudian melangkah menjauh.
Bejo meringis mendengarnya. Dia berdecak kemudian menutup pintu kamar dan melangkah menuju mobilnya. Sepanjang jalan, Bejo memperhatikan tubuh majikannya.
"Cakep, bohay, seksi, tapi stres sama penyakit dan tuntutan suami serta mertua. Kasihan amat dah ini perempuan," cibir Bejo.
Bejo segera membukakan pintu belakang untuk wanita itu tetapi Nyonya Mila justru menunjuk pintu bagian depan.
"Nyonya mau duduk di depan?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya.
"Oh oke, tapi nggak apa-apa, Nyonya?"
"Nggak masalah, bukankah kita memang harus belajar untuk lebih dekat?" tanya wanita itu balik kemudian melangkah mendekati Bejo yang kini membukakan pintu depan.
Dari pandangan mata Bejo, terlihat jelas dia menemukan setumpuk kekecewaan di mata majikan wanitanya. Namun Bejo berusaha untuk tak menyinggung apapun.
"Silahkan dipasang sabuk pengamannya, Nyonya!" kata Bejo kemudian menutup pintu dan bergegas menempati kursi kemudi.
Bejo pun bersiap melajukan mobilnya tetapi tubuhnya mendadak kaku kala merasakan sentuhan tangan Nyonya Mila tepat di dadanya.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Bejo dengan jantung yang berdebar hebat.
"Sial! Baru gini aja udah deg-degan jantung gue. Gimana kalau nyentuh nich cewek?" kata Bejo dalam hati dengan sedikit melirik Nyonya Mila.
"Pengamanmu nggak dipakai, Bejo?" tanya Mila dengan suara yang setengah berbisik dan terdengar manja membuat kedua mata Bejo terpejam serta nafas menjadi terasa berat.
Bab 05. Warna Lingerie
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang.
"Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue tapi nggak gini reaksinya. B aja!"
Dalam hati Bejo begitu mengeluhkan akan reaksi di tubuhnya. Otaknya pun begitu berisik. Apa karena majikannya begitu cantik? Haish! Padahal dari banyaknya wanita di kampus, belum ada yang membuatnya bisa sampai berdebar begini. Sekalipun itu kekasihnya.
"Eheeemm...."
Suara Bejo memecahkan keheningan. Nyonya Mila menoleh ke arahnya dan Bejo memberikan senyuman tipis seraya melajukan mobilnya.
"Kenapa, Bejo? Ada yang mau kamu tanyakan?"
"Iya, Nyonya. Boleh?" tanya Bejo balik.
Hal ini memang sejak tadi cukup mengganggu pikirannya. Apalagi setelah tau reaksi wanita tua gila tadi dan Mila yang malah menutupi satu hal terpenting itu.
"Silahkan!"
"Kenapa Nyonya tidak mengatakan dan menjelaskan pada mertua Nyonya kalau sedang sakit? Jadi setidaknya dia nggak salah paham dan menuduh Nyonya mandul."
"Untuk apa? Agar semakin dimaki olehnya? Sejak awal dia sudah tidak suka sama saya. Kalau dia sampai tau penyakit saya ini, sudah pasti suami saya langsung disuruh menikah dengan wanita lain. Belum lagi mulutnya yang seperti itu. Kamu sudah tau sendiri 'kan?"
"Iya banget lagi, mulutnya udah kayak cabe gendot. Pedes banget! Sabar-sabar ya, Nyonya!"
"Jangan lupa tugas kamu, Bejo! Tidak perlu memikirkan perasaan saya. Saya tau bagaimana cara menutup mulut mereka."
"Akan saya laksanakan dengan baik, Nyonya."
"Bagus kalau begitu!"
Bejo fokus dengan jalan tetapi godaan di depan mata. Dia menarik nafas dalam setelah melirik kaki jenjang yang terlihat begitu menggoda.
Rok yang pendek memamerkan bagian paha Nyonya Mila hingga membuat Bejo berulang kali gagal berusaha mengalihkan pandangannya. Putih, Mulu, bersih memberikan daya tarik yang tak bisa Bejo hindari.
"Otak gue mulai kotor. Segitunya? Gila! Pakai pelet apa sich nich cewek? Apa karena Nyonya Mila wanita dewasa jadi gue penasaran? Haish ... Padahal baru dideketin aja udah berdiri semua bulu gue."
Bejo menggelengkan kepala dan mencoba memikirkan dulu teknik dan triknya. Ingat! Ada tantangan yang harus dia lalui. Yang utama adalah penyakit vaginismus itu.
"Silahkan Nyonya! Saya akan kembali setelah selesai ngampus," ujar Bejo seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mila untuk keluar.
Bejo mengantar wanita itu ke toko roti besar tepat di pusat kota. Toko roti terbesar milik majikannya yang selama ini menjadi tempat usaha dengan banyak cabang yang tersebar.
"Hhmm... Jangan terlalu malam! Kamu sudah hafal jam pulang saya bukan?" tanya Mila padanya.
"Sudah, Nyonya."
"Oke."
Bejo menoleh dan memperhatikan wanita itu yang kini melangkah menjauh dan memasuki toko. Setelah dipastikan sudah aman, Bejo pun segera pergi meninggalkan dari sana.
Tujuannya saat ini adalah kampus tercinta. Waktu yang sudah hampir mepet membuat Bejo melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang.
Sampai di sana pun tak ada waktu untuk Bejo meladeni ocehan temannya yang menggoda setelah tau dia membawa mobil ke kampus. Bejo langsung saja masuk kelas dan hanya melirik sekilas teman-temannya yang memperhatikan dengan tatapan penuh tanya.
"Mobil siapa?"
"Nggak usah banyak tanya!" sahut Bejo dan fokus mata kuliahnya hari ini.
Bejo kembali ke mode serius setiap kali sudah masuk kelas. Dua mata kuliah sudah dia taklukan dan kini waktunya menjemput majikannya.
Demi menghindari pertanyaan teman-temannya dan ajakan nongkrong yang selalu menggiurkan, Bejo berlari lebih dulu keluar ruangan menuju mobil Mila yang terparkir rapi di halaman kampus.
"Woy! Jo! Gila ngacir aja itu anak!"
Bejo terkekeh mendengar umpatan teman-temannya dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pergi dari sana. Bejo melirik kaca spion untuk melihat kedua temannya yang tadi berusaha mengejar.
"Sorry, Bro! Gue ada misi penting soalnya."
Bejo langsung saja menuju toko roti. Dalam hati jangan sampai terlambat menjemput majikannya. Namun sampai di sana, justru Bejo masih harus menunggu Mila keluar dari ruang meeting.
Bejo pun memilih menunggu di mobil saja seraya mendinginkan pikirannya yang tadi selesai dibuat belajar. Namun kepikiran dengan penyakit yang Mila derita.
"Gue searching aja dech. Penasaran! Masa' iya segitu susahnya masuk. Sakit wajarlah! Namanya juga diperawanin tapi masa' iya nggak tahan. Harusnya sic kalah sama horny."
Bejo pun segera mencari tau dari beberapa artikel, pendapat dokter, sampai dia membuka satu persatu komentar dan ulasan dari sesama pasien penderita penyakit tersebut.
"Serem juga ya," gumam Bejo yang begitu sangat serius sekali membaca setiap komentar penderita. "Sedih amat! Gue bisa nggak ya?"
Tanpa sadar Mila sudah mendekati dan mengetuk kaca mobil berulang kali. Bejo masih saja fokus hingga wanita itu masuk dan duduk di sampingnya. Barulah Bejo sadar.
"Jo!"
"Eh, Nyonya! Su... Sudah selesai, Nyonya?" tanya Bejo yang kemudian mematikan layar ponselnya dan mengalihkan tatapan mata Mila saat wanita itu terlihat curiga.
"Kamu sedang baca apa?" tanya Mila dan Bejo berusaha santai menjawabnya.
"Materi kampus, Nyonya. Gimana? Langsung pulang, Nyonya?" tanya Bejo dan anggukan dari wanita itu membuat Bejo segera melajukan mobilnya.
"Malam ini jangan lupa! Kamu datang ke kamar saya jam sepuluh ya. Jangan sampai Bibi atau pekerja lainnya melihat kamu! Untuk pekerjaan yang ini kalau bisa dirahasiakan. Saya tidak mau ada yang tau," kata Mila dan gantian Bejo yang menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu.
"Jangan lupa juga, saya suka laki-laki yang bersih dan wangi. Libido saya langsung meningkatkan kalau kamu bisa menyuguhkan itu. Apalagi dengan penyakit saya yang sudah kamu pahami. Kamu tentu sudah tau bagaimana cara agar saya benar-benar nyaman."
"Baik, Nyonya. Saya usahakan," jawabnya dengan tenang padahal otak Bejo sedari tadi berpikir bagaimana cara membuat Mila mau menerima miliknya.
"Mungkin tipis-tipis dulu, Nyonya. Apalagi kita baru."
"Terserah kamu!"
Hening, beberapa saat tak ada obrolan lagi di dalam mobil sampai dimana mereka tiba di rumah dan Bejo segera turun membukakan pintu mobil untuk Mila.
"Silahkan, Nyonya!"
Bejo memperhatikan wanita itu bergerak keluar dari mobil. Aroma manis dari tubuh Mila masih sangat tajam padahal sudah seharian berada di toko roti. Bejo menghirup dengan sadar hingga kedua matanya terpejam.
"Jo!"
"Eh iya, Nyonya. Ada apa?" tanya Bejo seraya menutup pintu mobil kemudian menatap wajah Mila yang terlihat merona. Kedua alisnya pun terangkat melihat perubahan itu.
"Kamu suka warna apa?"
"Hah? Warna? Warna untuk apa ya, Nyonya? Kalau mobil saya suka warna hitam dan putih tapi kalau pakaian cenderung hitam, Nyonya," jawab Bejo menjelaskan.
"Bukan itu."
" Memangnya apa, Nyonya?"
"Ah! Sudah lupakan! Kamu nich nggak peka!"
Wanita itu pun segera melangkah pergi dan Bejo menggaruk kepalanya. Bejo bingung dengan sikap Mila.
"Warna apa sich? Bikin penasaran aja."
Bejo pun melangkah masuk menuju kamarnya untuk menyimpan tas dan juga mempersiapkan diri demi misi nanti malam. Namun Bejo masih mengingat-ingat tentang pertanyaan majikannya tadi.
"Warna? Warna apa? Eh! Apa jangan-jangan warna lingerie?"
Bab 06. Seksi
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik.
Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu akan sangat ditunggu-tunggu oleh Bejo.
Namun di luar ekspektasi kalau dia akan melakukannya dengan wanita berkelas yang ternyata istri orang.
Woooowwww tentu saja itu di luar nalarnya. Bejo tak memiliki jiwa pembinor tapi dituntut untuk mengeksekusi milik orang lain.
"Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak!" Bejo bersenandung lirih seraya membersihkan bulu-bulu di bawah sana.
"Juki, loe mau gue pake. Harus kuat, gagah dan perkasa! Kita jebol gawang yang katanya susah itu. Nggak ada kata gagal Juki walaupun loe belum pernah gue pake!"
Selama ini jangankan memecah dara perawan, memanjakan dengan senam lima jari saja Bejo sangat jarang melakukannya. Bukan tidak ingin apalagi tidak suka. Bejo begitu karena tidak ingin kecanduan tapi berbeda saat melihat Nyonya Mila, agaknya otak Bejo menjadi kotor.
"Tuh 'kan! Penasaran 'kan loe, Juk? Ya kali bangunnya sekarang. Dibilang nanti aja kalau lihat Nyonya pakai lingerie. Sialnya gue lola tadi. Kalau Nyonya pakai yang hitam, beeehhhh bodynya pasti aduhai banget ya Juk. Setuju nggak loe?" tanya Bejo yang kemudian menepuk miliknya yang setengah hidup.
"Aaagghh...."
Bejo mendesah kala rasanya mendadak enak. Dia mendesis dan gerakan si Juki semakin bangun saja.
"Enak ternyata Juk. Udah lama nggak ngeluarin, tapi nggak sekarang juga, Juki! Gue kata nanti aja kita gaspolnya. Malah sekarang loe udah sange aja. Ganjel nanti, Juk! Yeee.... Loe lagi! Repot!"
Kedua mata Bejo memejam seraya mengusap miliknya. Bayangan akan tubuh molek Mila menghantui dan mengotori otaknya. Dia yang jarang begini, belum-belum sudah merasakan gejolak yang membara.
Sialnya, semua butuh perjuangan mengingat Mila yang memiliki penyakit langka. Itu tantangannya dan Bejo harus bisa.
"Sssttt.... Enak banget lagi. Loe harus bisa berdiri sempurna ya Juk di depan Nyonya Mila. Jangan sampai nggak! Tunjukan pesonamu, Juki!"
Bejo meneruskan mandinya. Dia mandi mode gadis, lama dan bersih. Intinya apa yang Mila katakan tadi benar-benar Juki maksimalkan. Jangan sampai mengecewakan apalagi membuat Nyonya Mila sampai tidak berhasrat dengannya.
Selesai mandi, semprotan minyak wangi pun membuatnya semakin sedap dinikmati dan penampilan rapi terlihat sedap dipandang mata.
Bejo melihat penampilannya dari cermin. Dia menyeringai saat melihat tak ada celah sedikitpun yang mungkin akan dicacat oleh Mila. Tangan ya menyugar rambutnya dengan gerakan yang perlahan.
"Ganteng emang gue. Yakin nggak akan ditolak sama Nyonya. Sentuh sekali Nyonya langsung buka kaki," kata Bejo kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
"Dua jam lagi. Makan dulu lah gue."
Bejo melangkah menuju ruang makan. Wangi di tubuhnya menyita perhatian Bibi sampai menoleh menatap bingung dengan kedua alis menukik memperhatikannya.
"Jo, mau apel? Perasaan belum malam Minggu. Baru juga malem Jumat," tegur Bibi dan Bejo terkekeh mendengar itu.
"Justru malam Jumat Bi, jadi kudu rapi, wangi dan menarik. Ganteng 'kan Bi?" tanya Bejo dengan percaya dirinya kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang Bibi siapkan khusus untuk pekerja di rumah itu.
"Malam Jumat? Emangnya kamu mau jadi sajen memedi?"
"Yeeeehhhh si Bibi. Dikata mau saingan sama kembang kali. Sunah Rasul dong, Bi! Nggak paham Bibi nich," jawab Bejo tanpa sadar membuka kartu tetapi saat hendak membuka mulut untuk memasukkan makanannya.
Pergerakan Bejo terhenti kemudian melirik Bibi yang sedang memikirkan apa yang dia katakan tadi.
"Awas jangan sampai kamu hamilin anak orang walaupun jaman sekarang katanya kalau nggak DP duluan nggak enak!" pesan Bibi.
Bejo menghela nafas lega mendengar apa yang Bibi katakan.
"Oke Bibi gaul! Makan dulu biar kuat, Bi."
"Parah kamu tuh! Bibi mau ke kamar Nyonya dulu lah! Nyonya minta ganti sprei katanya."
"Oke, Bi."
Bejo melanjut makannya seraya memperhatikan pergerakan Bibi. Di pertengahan tangga, terlihat Nyonya Mila turun dengan bertelanjang kaki. Kedua alis Bejo menukik melihat pakaian Mila yang kini sudah ganti.
Rambut tergerai indah, tubuh molek itu ditutupi dengan balutan pakaian satin. Kimono tidur warna hitam yang mungkin terdapat lingerie di dalamnya semakin menggoda iman.
"Ukuran 34C, bodi semok, bokong bulet, kulit putih, wajah cantik. Yang beginian jadi makanan gue malam ini. Gila sich! Siapa juga yang mau nolak. Persetan dengan apapun itu. Selagi itu menguntungkan, hajar aja nggak sich?"
Mata Bejo mendadak hijau melihat Mila. Padahal sebelumnya dia sangat menghormati dan menghargai wanita itu. Apalagi melihat Mila yang terlihat kelam sekali.
Tanpa Bejo sangka ternyata wanita yang sakit hatinya akan sangat menggila.
"Bejo, kamu lihat apa?"
Deg
Bejo tersadar dalam lamunannya. Bejo berdehem kemudian beranjak dari duduknya. Makanan yang ada di tenggorokan sampai berat sekali dia telan hingga memberikan rasa sesak di dada.
Dengan cepat Bejo mengambil minum dan meneguknya. Kedua mata terus melirik Mila tanpa putus. Tatapan mata Mila pun mengunci Bejo yang kemudian menarik gelasnya dan meletakkan kembali benda pecah belah itu di atas meja.
"Ada apa, Nyonya? Akh iya, Nyonya cantik malam ini."
Mila menyeringai mendengar apa yang ia katakan kemudian mencondongkan tubuhnya seraya menunjuk dada Bejo.
"Rayuanmu tidak mempan sebelum kamu menunjukkan keperkasaanmu padaku, Bejo."
Bisikan Mila seketika membuat tubuh Bejo menegang merinding sebadan-badan. Apalagi yang Mila katakan mengandung racun yang menagihkan jiwa raga.
"Lihat saja nanti, Nyonya. Saya juga minta kerja samanya. Buka kaki Nyonya lebar-lebar saat saya akan masuk nanti!" sahut Bejo kemudian mengangkat kedua alisnya dan Mila menarik diri.
"Itu tantangan untukmu, Bejo. Naik setelah Bibi turun!"
"Nyonya nggak makan dulu? Katanya jam sepuluh, Nyonya? Bagaimana kalau Bibi tau?" tanya Bejo dan Mila menggeleng kepala.
"Itu urusanmu, Bejo! Bayaranmu sudah sangat mahal. Tidak seharusnya kamu menanyakan cara padaku," jawab Mila yang kemudian berbalik meninggalkan meja dapur.
Bejo menghela nafas berat seraya mengusap dada. Tatapan mata masih tetap mengarah pada Mila yang memiliki daya pikat sangat hebat.
"Cakep banget," gumam Bejo memperhatikan langkah Mila dengan geolan bokong yang membuat Bejo mendesis melihat itu.
"Heh! Bejo! Kamu lihat apa?"
Bejo terjingkat kala teguran dari Bibi datang. Lagi-lagi dia tersadarkan dari lamunan joroknya.
"Awas kamu macam-macam sama Nyonya! Disembelih sama Tuan baru tau rasa kamu!" kata Bibi yang kemudian melangkah menjauh.
Bejo mengusap kasar wajahnya. Belum selesai makannya, Bejo memilih beranjak dari sana mengingat ada kesempatan untuknya menuju kamar Mila.
Bejo melihat Bibi masuk kamar. Bergegas dia berlari menaiki tangga menyusul Mila.
Bejo lebih dulu melihat ke sekitar takut-takut ada yang melihat pergerakannya. Tangannya membuka handle pintu setelah mengetuk singkat. Tanpa basa basi, Bejo segera masuk dan menutup rapat kembali pintu kamar itu.
"Aman..."
Bejo menghela nafas lega kemudian berbalik untuk mencari Mila. Namun alangkah terkejutnya dia kala melihat Mila dengan kimono tidur yang sengaja dilepas hingga jatuh ke lantai.
Ini bukan lingerie, tapi sebuah kain berbetuk bikini yang menyambut hangat mata dan jiwa Bejo.
"Shiiiittt! Seksi banget, Anjiiir!"